Minggu, 12 Juni 2011

ANTHRAX : Penyakit hewan yang perlu diwaspadai


Pendahuluan

Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.

Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 - 1900 di daerah Karesidenan Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dari sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir ini diberitakan media elektronik maupun cetak, 6 orang dari Babakan Madang meninggal dunia gara-gara memakan daging yang berasal dari ternak sakit yang diduga terkena anthrax. Kejadian ini telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil langkah proaktif untuk meneliti kejadian ini agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.


Penyebab
Penyakit anthrax disebabkan oleh Bacillus anthracis yang sangat ganas dan sulit. diberantas karena merupakan Soil Bomed Disease, yang secara harfiah dapat diartikan: ‘penyakit dari tanah’. Bacillus anthracis yang berbentuk persegi panjang berderet (bila dilihat dengan mikroskop) seperti gandengan kereta api ini dapat membentuk spora dan dapat hidup berpuluh-­puluh tahun di dalam tanah. Di dalam tubuh penderita, Bacillus anthracisterdapat di dalam darah dan organ-organ dalam terutama limpa. Itu sebabnya penyakit ini dikenal dengan sebutan radang limpa.

Sebetulnya Bacillus anthracis sendiri tidak begitu tahan terhadap suhu tinggi dan bermacam desinfektan, namun mereka mudah sekali membentuk spora yang cahan kekeringan dan mumpu hidup lama di tanah yang basah, lembab atau di daerah yang sering tergenang air. Itu sebabnya, ternak yang mati karena anthrax dilarang diseksi (bedah mayat) atau dipotong untuk menghindari Bacillus anthracis berubah menjadi spora dan tersebar ke mana-mana oleh angin, air, serangga dan mencemari tanah. Sekali tanah tercemar spora, maka spora di tanah tersebut sangat berbahaya dan suatu saat dapat menyebabkan penyakitnya muncul kembali.

Cara Penularan
Bacillus anthracis tidak berpindah langsung dari ternak satu ke ternak yang lain, taJJi biasanya masuk ke dalam tubuh ternak bersama makanan, perkakas kandang atau dari tanah (rumput). Infeksi tanah inilah yang dianggap paling penting dan berbahaya. Spora yang ada di dalam tanah bisa naik ke atas oleh pengolahan tanah dan hinggap di rumput, yang kemudian dimakan ternak bersama sporanya. Demikian juga spora itu bisa masuk ke dalam kulit, apabila hewan itu berada dan tidur di tempat yang tercemar.

Spora ini akan tumbuh dan berbiak dalam jaringan tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Ternak penderita penyakit anthrax dapat menulari ternak lain, melalui cairan (eksudat) yang keluar dari tubuhnya. Cairan ini kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk munculnya kembali wabah di masa berikutnya. Cara penularan lain, bila ternak penderita sampai dipotong/bedah atau kalau sudah mati sempat termakan burung liar pemakan bangkai, sehingga sporanya dapat mencemari tanah sekitarnya, serta menjadi sulit untuk menghilangkannya.

Pada manusia, spora anthrax dapat masuk baik Icwat mulut karena makan bahan makanan (daging) yang tercemar ataupun lewat kulit yang terluka atau bekas gigitan serangga. Oleh karena itu, ternak yang terkena penyakit anthrax dilarang keras untuk dipotong dan dikonsumsi. Selain itu, spora juga dapat masuk ke tubuh manusia lewat pernapasan, yang dapat menyebabkan penderita mengalami radang paru-paru. Hal inilah sekarang yang menjadi berita dunia, karena orang yang tidak bertanggung jawab (teroris) menyebarkan spora anthrax melalui surat atau cara-cara lainnya.

Gejala
Ada beberapa bentuk penyakit anthrax pada ternak, yaitu per akut, akut dan kronis.

Bentuk per akut
Jalannya penyakit sangat mendadak dan segera terjadi kematian akibat pendarahan di otak. Gejala tersebut berupa sesak napas, gemetar, kemudian ternak roboh dan mati. Disamping itu, terkadang ternak itu terus mati sebelum nampak tanda-tanda bahwa ia sakit. Dan kerap kali diagnosa ditentukan setelah mati, yaitu terjadi pembesaran limpa membengkak 2-4 kali dari ukuran normal.

Bentuk akut (pada sapi, kuda, kambing dan domba)
Mula-mula demam, gelisah, kemudian terjadi depresi, sukar bernapas, detak jantung cepat tetapi lemah, kejang dan penderita segera mati, dengan dibarengi keluar cairan berdarah dari lubang ataupun mulut.
Selama penyakitnya berlangsung, demamnya dapat mencapai 41-420C, produksi susu menurun drastis. Pad a ternak bunting mungkin terjadi keguguran sebelum mati.

Bentuk Kronis
Umumnya terdapat pada babi, tetapi kadang-kadang terjadi juga pada jenis ternak lain.Gejalanya ditandai dengan adanya lepuh-Iepuh lokal yang terbatas pada lidah dan tenggorokan, serta leher bengkak.
Pada orang yang terinfeksi Bacillus anthracis biasanya menderita sakit perut yang hebat (radang usus), muntah-muntah, kaku yang kadang kolaps dan bisa mati. Pada infeksi lewat pernapasan, penderita menunjukkan gejala radang paru-paru. Sedangkan infeksi lewat kulit umumnya bersifat lokal, kemudian menjadi borok merah pucat atau kehitaman dan keluar cairan berwarna merah bening. Luka atau borok ini susah sembuh. Untuk itu, sebaiknya penderita segera ke Puskesmas atau Dokter terdekat dan menceritakan dengan sejelas-jelasnya kejadian tersebut, terutama bila makan daging yang dicurigai atau hasil potongan gelap.

Pencegahan
  •  Semua ternak (sapi, kerbau, kambing, domba, babi dan kuda) harus divaksin secara teratur. Mintalah bantuan petugas Dinas Peternakan setempat atau Dokter hewan terdekat.
  • Jagalah kebersihan dan kesehatan kandang, dengan selalu membersihkan kotoran dan desinfektasi, serta upaya penghapusan hama penyakit.
  •  Berilah makanan dalam jumlah cukup dan bermutu (bergizi).
  •  Bagi ternak besar (kerbau dan sapi), jangan terlalu dipaksakan kerja berat. Keletihan dan kurang makan dapat mempermudah berjangkitnya wabah penyakit anthrax. Aturlah cara kerja yang baik, sehingga tidak menyebabkan ternak sangat lelah, untuk itu aturlah waktu istirahat yang tepat.

Cara Penanggulangan Penyakit

·         Terhadap Temak yang Sehat
  • Ternak yang sehat, tapi tinggal sekelompok dengan yang sakit diberi suntikan serum atau antibiotik, dan setelah kurang lebih 5 hari baru divaksin.
  • Ternak yang sehat, 5-10 km dari daerah yang tercemar (pusat wabah) penyakit diadakan vaksinansi.

·         Terhadap Temak yang Sakit
  • Pisahkan segera dari ternak yang sehat.
  •  Pengobatan dengan serum dan atau kombinasi antibiotik (penicillium, Streptomycin,Oxitetracyclin, Chloramphenicol) atau terapi(Sulametazine, Sulafanilamide, Sulafapyridin dan lain-lain).
  • Setelah penderita sembuh dapat divaksinasi.
  • Bagi ternak yang sudah mati akibat anthrax, dibakar, diberi desinfektan kemudian dikubur. Sedangkan bangkai yang sudah terlanjur dikubur, tanahnya dibuka kembaIi, tanah galian diberi desinfektan dan kapur, serta bangkai dibakar, kemudian kuburan kembali ditutup.
  • Susu yang berasal dari ternak sa kit harus dimusnahkan, dibuang dengan dicampur larutan formalin.


sumber:

www.litbang.deptan.go. Id

0 komentar:

Posting Komentar